Belajar · 26 Juli 2026 · 21 menit baca

Panduan Mengenali Gaya Belajar Anak untuk Orang Tua Bandung

Kenali gaya belajar anak visual, auditori, dan kinestetik secara berimbang: apa yang berguna, apa yang ditolak riset, dan cara mendampinginya di rumah.

Panduan Mengenali Gaya Belajar Anak untuk Orang Tua Bandung

Jawaban Singkat

Gaya belajar anak, entah visual, auditori, atau kinestetik, paling tepat dibaca sebagai kecenderungan cara anak nyaman menyerap informasi, bukan tipe biologis yang mengunci dirinya. Riset pendidikan berskala besar menolak klaim bahwa mencocokkan materi dengan satu gaya membuat anak belajar lebih baik. Yang terbukti membantu adalah pendekatan multimodal: satu konsep disampaikan lewat gambar, penjelasan lisan, teks, dan praktik langsung sekaligus. Kenali kecenderungan anak untuk menjaga minatnya, lalu ajarkan setiap materi lewat saluran yang paling sesuai dengan isinya.

Titik berangkat

Mengapa orang tua di Bandung buru-buru menandai anaknya visual atau kinestetik

Hampir setiap orang tua pernah menyimpulkan hal yang serupa tentang anaknya. Ada yang berkata anaknya tipe visual karena rajin menggambar, ada yang yakin anaknya auditori karena cepat hafal lagu, dan ada yang menyebut anaknya kinestetik karena sulit duduk diam saat belajar. Kesimpulan itu terasa masuk akal dan menenangkan. Begitu sebuah label ditempel, seolah ada peta jelas untuk mendampingi anak belajar di rumah.

Gagasan tersebut berakar pada model gaya belajar yang paling terkenal, yaitu VARK. Model itu membagi kecenderungan menyerap informasi menjadi empat saluran: visual berupa gambar dan diagram, aural atau auditori berupa mendengar dan berbicara, membaca-menulis berupa teks, dan kinestetik berupa praktik serta gerak. Banyak keluarga mengenalnya dalam versi ringkas tiga saluran, yaitu visual, auditori, dan kinestetik, yang sering disingkat VAK.

Sampai titik ini, mengenali kecenderungan anak memang bermanfaat sebagai bahan pengamatan. Persoalan muncul saat label berubah menjadi pagar. Anak yang dicap visual lalu dijauhkan dari diskusi lisan, atau anak kinestetik dianggap tak cocok membaca buku tebal. Padahal seorang anak yang hari ini senang menggambar tetap perlu membaca instruksi soal, mendengar penjelasan guru, dan mencoba langsung saat belajar les privat SD di Bandung.

Artikel ini menata ulang cara membaca gaya belajar anak dengan jujur pada bukti ilmiah yang ada, sekaligus memberi pegangan praktis yang bisa langsung dipakai keluarga. Tujuannya sederhana: menjaga manfaat dari mengenali kecenderungan anak, sambil membuang bagian yang justru menyempitkan ruang tumbuhnya. Perbedaan antara keduanya menentukan apakah pendampingan di rumah membuka jalan atau malah menutupnya.

Bagi banyak keluarga, dorongan untuk melabeli anak lahir dari niat baik. Orang tua ingin cepat menemukan cara yang paling menolong, apalagi saat melihat anak kesulitan mengejar pelajaran atau kehilangan semangat. Label terasa seperti jalan pintas menuju solusi. Persoalannya, jalan pintas yang salah arah bisa membawa keluarga menjauh dari akar masalah yang sebenarnya sederhana untuk ditangani. Karena itu, memahami apa yang benar-benar dikatakan riset menjadi bekal penting sebelum menyusun strategi belajar di rumah, sebelum memilih pendamping, dan sebelum menentukan cara anak sebaiknya mengulang pelajarannya setiap hari.

Angka kunci

Fakta yang perlu dibaca sebelum melabeli anak

1987
Tahun Neil Fleming merumuskan VARK
89,1%
Pendidik meyakini gaya belajar
>90%
Partisipan percaya klaim gaya belajar
1 studi
Dukungan parsial untuk pencocokan

Peta modalitas

Empat modalitas VARK dan wujud nyatanya di meja belajar rumah

Neil Fleming, seorang pendidik asal Selandia Baru, merumuskan VARK pada 1987 sebagai alat refleksi. Ia menegaskan model ini adalah pemantik untuk berpikir tentang cara belajar, dan mengingatkan bahwa banyak orang bersifat multimodal, yaitu nyaman di lebih dari satu saluran. Memahami keempatnya membantu orang tua mengenali kapan anak terlihat lebih hidup ketika belajar, tanpa terburu-buru menguncinya pada satu kotak.

Visual. Anak dengan kecenderungan ini tertarik pada gambar, warna, diagram, peta, bagan alur, dan tata letak halaman. Ia sering ingat posisi sebuah rumus di halaman atau warna stabilo yang ia pakai. Di rumah, sketsa langkah pengerjaan soal, peta pikiran, dan kartu bergambar membuat materi terasa lebih jelas. Anak yang gemar menggambar biasanya menikmati les menggambar di Bandung sebagai penyalur minat, meski itu tak berarti seluruh pelajarannya harus lewat gambar.

Aural atau auditori. Anak yang condong ke saluran ini senang bercerita, mengulang materi dengan suara keras, dan berdiskusi. Penjelasan lisan, sesi tanya jawab, lagu bantu hafalan, sampai rekaman suara sering lebih menempel di ingatannya daripada tumpukan catatan diam. Ia kadang terlihat berbicara sendiri saat menghafal, dan itu justru cara ia mengunci informasi.

Membaca dan menulis. Sebagian anak paling nyaman dengan buku, daftar, dan menyalin ulang materi dengan kalimatnya sendiri. Ringkasan tertulis, glosarium, jurnal belajar, dan soal uraian menjadi teman terbaiknya. Ia menikmati proses menata kata, dan pemahamannya menguat saat menuliskan kembali apa yang ia baca.

Kinestetik. Anak kinestetik belajar sambil bergerak, memegang benda, dan mencoba langsung. Alat peraga, eksperimen sederhana, permainan peran, dan praktik nyata membuat konsep abstrak menjadi terasa. Ia butuh jeda gerak yang teratur, dan sering paham sebuah ide setelah tangannya sendiri mengerjakannya. Menyusun balok penghitung, menata kartu angka, atau memeragakan sebuah peristiwa sejarah bisa membuat pelajaran yang tadinya terasa jauh menjadi dekat dan hidup baginya.

Perlu dicatat pula bahwa VARK hanyalah satu dari sekian banyak model gaya belajar yang pernah dibuat. Ada model yang membagi pembelajar menjadi aktivis, reflektor, teoritis, dan pragmatis; ada pula yang memilah menurut global lawan analitis. Keberagaman model ini justru menjadi salah satu kritik utama, karena setiap kerangka menawarkan penggolongan yang berbeda dan tak selalu sejalan satu sama lain. Bagi orang tua, ini pertanda untuk tidak menganggap satu model mana pun sebagai peta pasti tentang siapa anaknya.

Kunci pembacaan yang sehat ada pada kata kecenderungan. Sebagian besar anak memakai keempat saluran dalam kadar berbeda, dan preferensi itu bisa bergeser seiring usia, materi, serta suasana hati. Seorang anak kelas dua bisa terlihat sangat kinestetik, lalu tumbuh menjadi pembaca yang lahap tiga tahun kemudian. Melihatnya sebagai spektrum yang cair menjaga orang tua dari kesalahan menutup pintu yang sebenarnya masih terbuka lebar bagi anak, dan menjaga harapan tetap luas terhadap apa yang bisa ia capai.

Tabel banding

Ciri, media yang membantu, dan jebakan tiap saluran

Ringkasan pengamatan praktis untuk empat modalitas VARK saat anak belajar di rumah.

Fitur Ciri saat belajar Media yang membantu Jebakan yang perlu diwaspadai
Visual Suka gambar, warna, dan menata catatan; ingat tata letak halaman Diagram, peta pikiran, kartu warna, sketsa langkah Bisa hafal tampilan tanpa memahami makna di baliknya
Auditori Senang bercerita, mengulang dengan suara keras, dan berdiskusi Penjelasan lisan, tanya jawab, lagu hafalan, rekaman Rentan terganggu suara sekitar dan lupa mencatat
Membaca-menulis Nyaman dengan buku, daftar, dan menyalin ulang materi Ringkasan tertulis, glosarium, soal uraian, jurnal Terjebak menyalin tanpa mengolah ulang isinya
Kinestetik Belajar sambil bergerak, memegang benda, dan mencoba langsung Alat peraga, eksperimen, permainan peran, praktik Sulit duduk lama dan butuh jeda gerak teratur

Sisi ilmiah

Kritik riset: klaim mencocokkan gaya dengan pengajaran gagal dibuktikan

Mengenali kecenderungan anak adalah satu hal. Meyakini bahwa mengajar anak sesuai gaya dominannya membuatnya belajar lebih baik adalah hal yang berbeda, dan justru bagian kedua inilah yang ditolak bukti. Klaim tersebut dikenal sebagai hipotesis pencocokan atau meshing hypothesis, dan menjadi inti perdebatan selama dua dekade terakhir.

Pada 2008, empat psikolog kognitif, yaitu Harold Pashler, Mark McDaniel, Doug Rohrer, dan Robert Bjork, menerbitkan tinjauan berjudul Learning Styles: Concepts and Evidence untuk Association for Psychological Science. Mereka menetapkan syarat pengujian yang adil: sebuah eksperimen harus menunjukkan pola interaksi silang, tempat anak visual unggul dengan materi visual dan anak auditori unggul dengan materi auditori pada tugas yang sama. Setelah menyisir literatur, mereka menemukan hampir tak ada studi yang memenuhi syarat itu. Simpulan mereka lugas: seandainya klasifikasi gaya belajar punya manfaat praktis, hal itu masih harus dibuktikan.

Tinjauan tersebut menguatkan temuan sebelumnya. Pada 2004, laporan Frank Coffield dan kolega untuk Learning and Skills Research Centre di Inggris menilai sejumlah model gaya belajar dan menyimpulkan bahwa literaturnya secara teori tidak koheren dan secara konsep membingungkan, penuh dikotomi yang tumpang tindih tanpa dasar ilmiah yang kokoh. Laporan itu memeriksa tiga belas model utama secara mendalam.

Puncaknya datang pada Maret 2017. Sekelompok ilmuwan saraf, psikolog, dan pendidik menerbitkan surat terbuka di harian The Guardian yang meminta guru berhenti menghabiskan waktu untuk gaya belajar. Mereka menegaskan tidak ada kerangka yang koheren, dan kajian sistematis konsisten menemukan bukti yang lemah bahwa mencocokkan format materi dengan gaya seseorang membuat belajar lebih efektif. Bagi orang tua, pesannya menenangkan sekaligus membebaskan: anak Anda tak terkurung oleh satu label, dan tak ada yang salah bila ia belajar dengan beragam cara.

Penting dipahami bahwa penolakan ini tertuju pada satu klaim spesifik, yaitu manfaat mencocokkan pengajaran dengan gaya. Riset tidak menyangkal bahwa anak punya minat dan preferensi yang berbeda, dan tidak melarang orang tua memvariasikan cara mengajar. Yang dibongkar adalah janji bahwa pencocokan gaya membuat hasil belajar melonjak. Membedakan dua hal ini menghindarkan orang tua dari kesimpulan yang keliru bahwa perbedaan anak tidak penting. Perbedaan itu tetap penting untuk dihormati, dan cara menghormatinya adalah dengan menyediakan pengalaman belajar yang kaya, bukan dengan mempersempitnya ke satu jalur.

Menariknya, keyakinan pada gaya belajar tetap bertahan kuat meski bukti menipis. Para peneliti menyebutnya neuromitos, gagasan tentang otak yang populer namun rapuh secara ilmiah. Ia bertahan karena terasa intuitif, karena orang menyukai penjelasan berbasis otak, dan karena kita cenderung suka menggolongkan orang ke dalam tipe. Menyadari daya tarik psikologis ini membantu orang tua bersikap lebih kritis saat menemui klaim yang terdengar meyakinkan tentang cara belajar anaknya.

Sorotan angka

Keyakinan mayoritas, bukti minoritas

89,1%

pendidik meyakini pengajaran perlu dicocokkan dengan gaya belajar murid

Seandainya klasifikasi gaya belajar murid punya manfaat praktis, hal itu masih harus dibuktikan.
Pashler, McDaniel, Rohrer, dan Bjork · Learning Styles: Concepts and Evidence, 2008

Waspadai ini

Lima salah paham yang membuat label gaya belajar merugikan

Kekeliruan yang paling sering muncul saat kecenderungan berubah menjadi vonis.

Mengunci anak pada satu saluran

Anak dicap visual lalu dijauhkan dari diskusi dan praktik, padahal ia tetap butuh mendengar penjelasan dan mencoba langsung untuk paham utuh.

Menghindari materi atas nama gaya

Anak menolak membaca buku dengan alasan bukan gayanya, sehingga melatih dalih menghindar yang justru menyempitkan keterampilan dasarnya.

Memaksa guru membuat empat versi materi

Menyiapkan empat sajian berbeda untuk satu topik menyedot waktu dan biaya, tanpa bukti bahwa hasil belajar anak jadi lebih baik.

Melupakan bahwa isi menentukan saluran

Peta tetap perlu dilihat dan lagu tetap perlu didengar, apa pun label anak; materi punya bentuk alaminya sendiri yang sulit dipaksakan.

Menutupi akar kesulitan sebenarnya

Label gaya belajar bisa mengalihkan perhatian dari sebab nyata anak kesulitan, misalnya konsep prasyarat yang belum kokoh atau rasa cemas terhadap mata pelajaran.

Luruskan dulu

Mitos populer seputar gaya belajar yang sering keliru dipahami

Beberapa gagasan turunan menempel pada gaya belajar dan ikut menyesatkan bila ditelan mentah. Meluruskannya membantu orang tua menimbang informasi yang berseliweran di media sosial serta grup sekolah, dan menjaga keputusan pendampingan tetap berpijak pada bukti.

Mitos otak kiri dan otak kanan. Sering terdengar bahwa anak otak kanan lebih kreatif dan otak kiri lebih logis, sehingga cara belajarnya harus berbeda total. Kajian gaya belajar justru menyoroti dikotomi semacam ini sebagai contoh pemilahan yang tumpang tindih tanpa dasar ilmiah. Otak anak bekerja sebagai satu jaringan yang terpadu, dan menyortir anak ke satu belahan otak menyederhanakan sesuatu yang jauh lebih lentur.

Mitos gaya belajar bawaan sejak lahir. Banyak orang meyakini gaya belajar adalah sifat biologis yang tetap, seolah anak lahir sudah menjadi tipe visual atau kinestetik. Riset menyebut keyakinan ini sebagai esensialisme psikologis, yakni anggapan bahwa kategori seperti pembelajar visual punya inti sejati yang berbasis biologi. Studi yang sama mengingatkan bahwa keyakinan kaku ini justru mendorong orang tua dan guru mengunci anak lebih dini, padahal preferensi anak dapat berubah seiring materi dan usianya.

Mitos tes daring yang akurat. Kuis gaya belajar di internet umumnya berupa laporan diri, yaitu anak memilih pernyataan yang paling menggambarkan dirinya. Hasilnya memotret preferensi sesaat, dan preferensi tidak selalu sama dengan cara yang paling efektif untuk belajar. Menjadikan skor kuis sebagai vonis membuat orang tua mempercayai label yang dibangun anak sendiri dari perasaan sesaat.

Mitos anak masa kini hanya bisa lewat layar. Sebagian orang tua menyimpulkan anaknya kinestetik atau visual murni karena akrab dengan gawai. Kenyataannya, keakraban dengan layar adalah kebiasaan, dan anak tetap menguatkan pemahamannya lewat membaca, menulis, mendengar, serta mencoba langsung. Menyandarkan seluruh belajar pada satu medium justru mempersempit latihan yang ia butuhkan.

Ada satu mitos turunan lagi yang halus namun berpengaruh, yaitu anggapan bahwa anak sendiri paling tahu cara ia belajar paling baik. Anak memang tahu cara mana yang paling ia sukai, dan itu berharga untuk menjaga minat. Kesukaan tidak selalu sejalan dengan keefektifan. Seorang anak bisa merasa paling nyaman membaca ulang catatan berkali-kali, padahal cara itu tergolong kurang ampuh dibanding melatih diri memanggil kembali materi tanpa melihat teks. Peran orang tua di sini adalah menghormati kesukaan anak sambil memperkenalkan cara-cara yang lebih kuat secara bertahap, sampai anak merasakan sendiri bedanya.

Meluruskan mitos ini tak berarti mengabaikan perbedaan anak. Perbedaan itu nyata dan layak dihormati. Yang perlu dijaga adalah cara membacanya, supaya perbedaan menjadi bahan untuk menyesuaikan pendampingan, dan tidak berubah menjadi rantai yang membatasi ke mana anak boleh melangkah. Sikap yang seimbang menempatkan gaya belajar sebagai salah satu bahan pertimbangan, di antara banyak bahan lain seperti tingkat kesiapan, minat pada topik, dan suasana emosi anak saat belajar.

Prinsip inti

Isi materi menentukan saluran, bukan diri anak

Ada satu prinsip yang sering luput dan justru paling membebaskan orang tua: sebagian besar keputusan tentang saluran belajar sudah ditentukan oleh isi materi itu sendiri, bukan oleh tipe anak. Geometri menuntut mata melihat bentuk dan sudut, jadi anak mana pun terbantu oleh gambar dan alat peraga saat mempelajarinya. Pengucapan bahasa asing menuntut telinga menangkap bunyi, jadi semua anak perlu mendengar dan menirukan, apa pun label mereka.

Prinsip ini terlihat jelas pada bidang yang saluran belajarnya melekat pada substansinya. Belajar memainkan alat musik atau menyanyi menuntut telinga bekerja, karena nada dan ketukan hanya bisa dikuasai lewat mendengar dan mengulang bunyi. Anak yang mengikuti les musik di Bandung berlatih dengan telinga sebagai penuntun utama, sekalipun ia menganggap dirinya seorang pembelajar visual di kelas matematika. Sebaliknya, keterampilan gerak tak bisa diserap hanya dengan menonton atau membaca.

Belajar berenang, berlari, atau bela diri menuntut tubuh mencoba langsung, karena keseimbangan dan koordinasi tumbuh dari pengulangan gerak nyata. Seorang anak yang berlatih di program les olahraga di Bandung harus menggerakkan tubuhnya, dan tak ada label auditori yang mengubah kenyataan itu. Materi mengetuk saluran yang paling cocok dengan dirinya, dan tugas pendamping adalah mengikuti tuntutan materi tersebut.

Prinsip ini juga menjelaskan mengapa sekolah yang baik selalu memadukan banyak cara mengajar. Guru menuliskan poin di papan, menjelaskannya dengan suara, meminta murid mencatat, lalu mengajak berlatih soal. Perpaduan itu bukan kebetulan, karena satu topik menuntut beragam bentuk agar bisa dipahami secara menyeluruh. Anak yang terbiasa dengan variasi semacam ini di rumah akan lebih siap mengikuti ritme kelas, dan tidak terkejut saat sebuah materi menuntut cara yang berbeda dari kesukaannya.

Dari sudut pandang ini, pertanyaan yang tepat bergeser. Alih-alih bertanya apa gaya belajar anak saya, pertanyaannya menjadi saluran apa yang paling cocok untuk materi ini, dan bagaimana saya menyajikannya dengan beberapa saluran sekaligus agar anak punya banyak pegangan. Pergeseran kecil dalam pertanyaan ini membebaskan orang tua dari beban mencari tipe yang tepat, dan mengalihkan tenaga ke hal yang benar-benar bisa dikendalikan, yaitu cara materi disajikan setiap hari di meja belajar.

Sikap yang sehat

Cara membaca kebutuhan belajar anak tanpa mengabaikan bukti

  • Amati kesulitan yang spesifik — Perhatikan materi mana persisnya yang membuat anak tersendat, alih-alih buru-buru menyimpulkan tipe umum belajarnya.
  • Tawarkan satu konsep lewat beberapa saluran — Sajikan topik yang sama dalam bentuk gambar, penjelasan, teks, dan praktik agar anak punya banyak pintu masuk.
  • Beri anak kendali cara mengulang — Biarkan anak memilih cara yang terasa nyaman untuk mereview, sambil sesekali menawarkan cara baru yang belum ia coba.
  • Pisahkan preferensi dari kemampuan — Senang pada satu cara belum tentu berarti lebih mampu dengan cara itu; keduanya perlu diukur terpisah.
  • Pakai teknik belajar yang terbukti — Utamakan latihan mengingat, belajar berjarak, dan penggabungan gambar dengan kata yang punya dukungan riset kuat.
  • Tinjau ulang secara berkala — Kebutuhan anak bergeser seiring materi dan usia, jadi evaluasi cara pendampingan setiap beberapa pekan, terutama menjelang pergantian semester di sekolah-sekolah Bandung.

Praktik di rumah

Langkah mengamati dan mendampingi anak belajar di rumah

Enam langkah sederhana, dari daftar sampai belajar bareng tutor pilihan.

  1. Petakan materi yang sedang sulit

    Mulai dari topik nyata yang membuat anak tersendat, misalnya perkalian bersusun atau membaca peta. Banyak orang tua di Bandung menemukan titik itu dari rapor atau catatan wali kelas, sehingga pengamatan berpijak pada masalah konkret di depan mata.

  2. Sajikan konsep dalam beberapa saluran

    Perkenalkan topik yang sama lewat gambar atau alat peraga, penjelasan lisan, teks ringkas, dan praktik singkat, lalu perhatikan mana yang paling cepat menumbuhkan pemahaman anak.

  3. Amati respon anak dan catat yang menempel

    Perhatikan saat mata anak berbinar atau ia mulai menjelaskan ulang dengan kata sendiri, lalu catat pola itu sebagai petunjuk, bukan sebagai penggolongan permanen.

  4. Gabungkan saluran, jaga agar tetap terbuka

    Pertahankan variasi cara belajar meski satu saluran terlihat paling disukai, supaya anak terbiasa nyaman dengan beragam bentuk materi yang akan ia temui di sekolah.

  5. Selipkan latihan mengingat dan jeda berjarak

    Ajak anak memanggil kembali materi tanpa melihat catatan, lalu ulangi topik itu beberapa hari kemudian, karena dua teknik ini menguatkan ingatan jangka panjang.

  6. Evaluasi setiap dua sampai tiga pekan

    Tinjau kembali cara pendampingan secara berkala, sesuaikan dengan materi baru dan perkembangan anak, dan libatkan anak dalam menilai cara belajar mana yang terasa membantu.

Dua sisi

Saat kerangka gaya belajar menolong dan saat ia menyesatkan

Direkomendasikan

Ketika mengenali kecenderungan membantu

  • Menambah variasi cara mengajar di rumah agar tak monoton
  • Membuka obrolan tentang minat dan kenyamanan belajar anak
  • Mendorong anak menyadari cara ia belajar, yaitu metakognisi
  • Menjadi titik awal asesmen diagnostik yang lebih terarah
  • Membantu memilih media pendukung yang menarik bagi anak

Ketika label gaya belajar merugikan

  • Mengunci anak pada satu identitas belajar yang tetap
  • Membuat anak menolak materi yang dianggap di luar gayanya
  • Menyedot waktu dan biaya untuk membuat banyak versi materi
  • Menutupi akar kesulitan anak yang sebenarnya
  • Menggeser fokus dari teknik belajar yang terbukti berhasil

Di ruang belajar

Cara pendamping menyesuaikan pengajaran tanpa mengkotakkan anak

Menerjemahkan semua ini ke dalam sesi belajar nyata memerlukan kejelian. Pendamping yang baik tidak membuka pertemuan dengan menebak tipe anak. Ia justru mulai dari mendengarkan di mana persisnya anak tersendat pada materi hari itu. Dari titik kesulitan yang konkret itulah penyesuaian dimulai, dan bukan dari label yang ditempel sejak awal.

Langkah pertama biasanya berupa asesmen kecil yang mengalir. Pendamping meminta anak menjelaskan ulang pemahamannya, mengerjakan satu soal sambil berpikir keras, atau menunjuk bagian yang terasa kabur. Cara ini mengungkap akar masalah, apakah konsep prasyarat yang belum kokoh, kosakata yang belum dikenal, atau rasa cemas yang membuat anak menghindar. Akar yang tepat menuntun pada penyesuaian yang tepat.

Setelah itu, satu konsep disajikan lewat beberapa saluran secara bergantian. Sebuah rumus dituliskan, digambar sebagai diagram, dijelaskan dengan analogi lisan, lalu dicoba pada contoh nyata. Pendamping mengamati saluran mana yang paling cepat menumbuhkan pemahaman anak, dan memakainya sebagai pintu masuk. Saluran yang lain tetap dijaga hidup, supaya anak terbiasa nyaman berpindah bentuk materi dan tidak bergantung pada satu cara tunggal.

Penyesuaian ini berubah dari satu mata pelajaran ke pelajaran lain. Anak yang sama bisa terbantu oleh gambar saat belajar pecahan, dan terbantu oleh gerakan tangan saat menghafal kosakata bahasa asing. Pendamping yang bekerja satu lawan satu punya ruang untuk membaca pergeseran ini dari dekat, sesuatu yang sulit dilakukan di kelas besar dengan puluhan anak. Tutor Eduosmo yang datang ke rumah keluarga di kecamatan seperti Coblong, Antapani, maupun Buahbatu terbiasa membaca pergeseran halus semacam ini dari satu meja bersama satu anak, lalu menyetel cara mengajar sesuai temuan hari itu juga. Di sinilah pendampingan personal memberi nilai tambah yang nyata bagi keluarga di Bandung.

Yang tetap dijaga di sepanjang proses adalah teknik belajar yang terbukti kuat, yaitu meminta anak memanggil kembali materi tanpa catatan, mengulang topik pada hari berikutnya, dan menggabungkan gambar dengan kata. Ketiganya dipakai apa pun kecenderungan anak, karena manfaatnya berlaku menyeluruh. Gaya belajar menjadi pintu untuk menjaga minat anak tetap menyala, sementara teknik yang terbukti menjadi mesin yang benar-benar menggerakkan pemahamannya maju.

Ringkasan padat

Pegangan singkat pendekatan multimodal untuk keluarga

Inti temuan riset
Mencocokkan pengajaran dengan satu gaya belum terbukti meningkatkan hasil belajar anak.
Pendekatan yang disarankan
Multimodal, yaitu memadukan gambar, suara, teks, dan praktik untuk satu konsep yang sama.
Peran label gaya belajar
Berguna sebagai bahan refleksi minat anak, berisiko bila dipakai mengunci pilihannya.
Penentu saluran utama
Isi materi itu sendiri, misalnya geometri menuntut visual dan renang menuntut praktik gerak.
Kaitan kebijakan Indonesia
Kurikulum Merdeka mendorong pembelajaran berdiferensiasi lewat asesmen diagnostik kebutuhan murid.
Sikap orang tua yang sehat
Mengamati kesulitan spesifik per materi, lalu menyesuaikan cara dan media pendampingan.

Data keyakinan

Seberapa luas keyakinan gaya belajar dipegang berbagai kelompok

Guru pra-jabatan 95,4%
Publik dalam eksperimen >90%
Agregat 33 studi 89,1%
Guru tersertifikasi 87,8%

Data agregat 15.405 pendidik di 18 negara dari tinjauan sistematis 2020, ditambah eksperimen atas 668 partisipan pada tahun yang sama.

Perjalanan gagasan

Dari model 1987 sampai bukti yang dipegang keluarga hari ini

  1. 01

    Model VARK dirumuskan

    1987

    Neil Fleming memperkenalkan empat modalitas sebagai alat refleksi cara belajar, dengan pesan bahwa banyak orang bersifat multimodal.

  2. 02

    Laporan Coffield di Inggris

    2004

    Learning and Skills Research Centre menilai model gaya belajar dan menyebut literaturnya tidak koheren secara teori serta membingungkan secara konsep.

  3. 03

    Tinjauan Pashler dan kolega

    2008

    Kajian untuk Association for Psychological Science menemukan hampir tak ada bukti untuk hipotesis pencocokan gaya dengan pengajaran.

  4. 04

    Surat terbuka di The Guardian

    2017

    Sekelompok ilmuwan saraf dan pendidik meminta guru berhenti menghabiskan waktu untuk gaya belajar karena buktinya lemah.

  5. 05

    Peringatan dari APA

    2019

    American Psychological Association menyoroti studi Nancekivell dan kolega bahwa keyakinan gaya belajar bisa mendorong strategi belajar yang keliru.

  6. 06

    Tinjauan sistematis prevalensi

    2020

    Kajian atas puluhan studi menemukan sekitar 89 persen pendidik masih meyakini gaya belajar, sehingga disebut neuromitos yang bertahan.

  7. 07

    Pembelajaran berdiferensiasi

    2022

    Kurikulum Merdeka yang dijalankan sekolah-sekolah di bawah Disdik Kota Bandung menekankan pemenuhan kebutuhan belajar murid lewat asesmen diagnostik, bukan pelabelan gaya yang kaku.

Bingkai Indonesia

Menuntun sesuai kodrat: menata perbedaan anak ala pendidikan Indonesia

Perdebatan ilmiah tentang gaya belajar sebenarnya bertemu dengan gagasan yang sudah lama hidup di pendidikan Indonesia. Ki Hadjar Dewantara mengajarkan bahwa pendidik menuntun tumbuhnya anak sesuai kodratnya, tanpa memaksa dan tanpa membiarkannya lepas tanpa arah. Melalui sistem among, guru dan orang tua berperan menjaga dan mengarahkan potensi anak, sambil menghormati bahwa tiap anak tumbuh dengan iramanya sendiri.

Membaca gaya belajar lewat kacamata itu menempatkannya pada porsi yang pas. Mengenali kecenderungan anak menjadi bentuk perhatian, yaitu cara orang tua memahami apa yang membuat anaknya nyaman dan bersemangat. Perhatian itu berubah keliru saat dipakai membatasi, dan menjadi tepat saat dipakai membuka jalan. Menuntun sesuai kodrat berarti menyediakan banyak pintu, lalu membiarkan anak masuk lewat yang paling terang baginya hari itu.

Warisan gagasan ini terasa dekat di Bandung, kota yang menjadi rumah bagi Universitas Pendidikan Indonesia atau UPI, kampus tempat ribuan calon guru Jawa Barat ditempa filosofi mendidik semacam ini sebelum masuk ke ruang kelas. Semangat menuntun sesuai kodrat itu ikut menular ke sekolah-sekolah di seluruh Bandung Raya, tempat guru berupaya membaca kebutuhan tiap murid alih-alih meratakan semua anak dengan satu cara.

Semangat yang sama tampak pada Kurikulum Merdeka melalui pembelajaran berdiferensiasi. Sebelum menyusun kegiatan, guru melakukan asesmen diagnostik untuk memetakan kesiapan, minat, dan kebutuhan murid, lalu menyesuaikan cara mengajar agar setiap anak bisa berpartisipasi penuh. Fokusnya ada pada kebutuhan nyata anak yang teramati, sehingga pendampingan berpijak pada bukti di depan mata.

Sintesis ini menutup jarak yang tadinya terasa seperti pertentangan. Di satu sisi ada temuan riset yang menolak pencocokan gaya, di sisi lain ada naluri orang tua yang ingin menghargai keunikan anak. Keduanya bertemu pada satu titik: hargai keunikan anak dengan cara yang benar. Menghargai keunikan tidak berarti mengunci anak dalam satu tipe. Wujud sejatinya adalah menyediakan lingkungan belajar yang cukup kaya sehingga tiap anak menemukan pijakan untuk maju. Filosofi menuntun dan praktik pembelajaran berdiferensiasi sama-sama menunjuk arah itu.

Bagi keluarga di Bandung, sintesis ini melegakan. Anak yang naik jenjang pada tahun ajaran 2026/2027 tak perlu dikotakkan ke dalam satu tipe untuk bisa berkembang. Yang ia butuhkan adalah pendamping yang jeli membaca kesulitannya, sabar menyajikan materi lewat beragam saluran, dan konsisten memakai teknik belajar yang terbukti. Pendekatan seperti ini terasa alami saat mendampingi anak sejak tahap awal, misalnya melalui pendampingan belajar anak SD atau penguatan dasar lewat les calistung di Bandung, tempat membaca, menulis, dan berhitung dilatih dengan cara yang menyenangkan sekaligus terarah.

Pada akhirnya, mengenali gaya belajar anak paling berguna saat ia menjadi jendela untuk memahami, dan berhenti bermanfaat saat ia berubah menjadi tembok yang membatasi. Orang tua yang membaca kecenderungan anak dengan lembut, menyediakan beragam cara belajar, dan konsisten memakai teknik yang terbukti, sedang memberi anaknya sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sebuah label. Ia memberi anak kebebasan untuk tumbuh melampaui perkiraan awal siapa pun, termasuk perkiraan orang tuanya sendiri. Itulah bentuk paling jujur dari menuntun, yakni menyiapkan jalan yang lapang, lalu berjalan di samping anak sambil percaya pada kemampuannya untuk berkembang.

Langkah bersama

Dampingi cara belajar anak Anda bersama Eduosmo

Tanya Jawab

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah gaya belajar anak itu nyata?

Preferensi cara belajar memang ada, sebagian anak terlihat lebih nyaman dengan gambar, suara, teks, atau praktik. Yang ditolak riset adalah anggapan bahwa preferensi itu tipe tetap dan bahwa mengajar sesuai gaya dominan membuat anak belajar lebih baik daripada cara lain.

Bagaimana cara mengetahui gaya belajar anak saya?

Amati anak saat mengerjakan materi nyata yang sedang sulit, tawarkan topik itu lewat beberapa saluran sekaligus, lalu catat mana yang paling cepat menumbuhkan pemahamannya. Perlakukan hasilnya sebagai petunjuk minat yang bisa berubah, bukan sebagai penggolongan permanen yang mengunci anak.

Kalau anak saya visual, apakah semua materi harus lewat gambar?

Tidak. Isi materi ikut menentukan saluran terbaik, misalnya pengucapan bahasa asing menuntut telinga dan gerak renang menuntut praktik tubuh. Anak yang condong visual tetap perlu mendengar, membaca, dan mencoba langsung agar pemahamannya utuh di semua mata pelajaran yang ia hadapi.

Apa itu pendekatan multimodal dalam belajar?

Pendekatan multimodal menyajikan satu konsep yang sama melalui beberapa saluran sekaligus, yakni gambar, penjelasan lisan, teks, dan praktik langsung. Dengan begitu anak punya banyak pegangan untuk memahami dan mengingat, dan pendampingan tidak bergantung pada satu cara tunggal yang belum tentu cocok.

Apakah tes gaya belajar di internet akurat untuk anak?

Tes semacam itu umumnya berupa laporan diri tentang preferensi, sehingga hasilnya berguna sebagai bahan obrolan dan refleksi. Hasil tes sebaiknya tidak dijadikan dasar untuk membatasi cara belajar anak, karena preferensi yang dilaporkan belum tentu mencerminkan cara ia belajar paling efektif.

Apa teknik belajar yang paling terbukti membantu anak?

Riset menyoroti latihan mengingat kembali materi tanpa melihat catatan, belajar berjarak yang menyebar pengulangan ke beberapa hari, serta penggabungan gambar dengan kata. Ketiganya bekerja untuk semua anak, apa pun kecenderungan gaya belajarnya, dan bisa dilatih perlahan di rumah bersama pendamping.

Ditulis Tim Akademik Eduosmo

Sumber & Referensi

  • The VARK Modalities, situs resmi VARK Neil Fleming
  • Learning Styles: Concepts and Evidence, Pashler dan kolega 2008
  • No Evidence to Back Idea of Learning Styles, Association for Psychological Science
  • Belief in Learning Styles Myth May Be Detrimental, American Psychological Association 2019
  • How Common Is Belief in the Learning Styles Neuromyth, tinjauan Frontiers in Education 2020
  • Should We Be Using Learning Styles, laporan Coffield dan kolega LSRC 2004
  • Toward a Deeper Understanding of the Learning Style Myth, Nancekivell dan kolega 2020
  • Six Strategies for Effective Learning, The Learning Scientists
  • Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid, Kemdikbud
  • Kata-kata Ki Hadjar Dewantara tentang Pendidikan, detikEdu

Bantu Kami Tetap Akurat

Ada informasi yang perlu diperbarui?

Artikel ini kami rawat berkala. Bila Anda menemukan data yang berubah atau kurang tepat, kabari kami dan pembaruan yang terverifikasi akan segera kami pasang.

Baca Juga

Wawasan Belajar Lainnya

Cara Belajar Anggar untuk Pemula di Bandung: Floret, Degen, Sabel

Panduan belajar anggar untuk pemula dan anak di Bandung: kenali floret, degen, sabel, perlengkapan, klub latihan di FPOK UPI, usia mulai, dan biayanya.

Cara Belajar Bermain Harmonika untuk Pemula di Bandung

Panduan belajar harmonika dari nol untuk pemula di Bandung: pilih diatonik C, kuasai tiup-sedot, nada dasar, lagu awal, plus toko alat musik dan komunitas.

Cara Belajar Bermain Kendang Sunda untuk Pemula di Bandung

Panduan belajar kendang Sunda dari nol untuk pemula di Bandung: kenali indung dan kulanter, suku kata tepak, pola jaipongan, sampai memilih sanggar.

Layani sekarang

Butuh pendamping belajar yang tepat?

Tutor Bandung dari kampus terbaik siap datang ke rumah. Konsultasi dulu, gratis tanpa komitmen.